Notification

×
Copyright © Best Viral Premium Blogger Templates

Kuliner

Iklan

Ayah Bejat di NTT, 13 Tahun Tiduri Anak Kandung

Detak Terkini
Senin, 08 Februari 2021, 18.28 WIB

Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)


NTT, Detakterkini.com – Seorang ayah inisial TWL, asal Desa Welibo, Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), tega meniduri anak kandungnya sendiri, inisial MTM, hingga hamil dan memiliki tiga orang anak, hasil hubungan terlarang itu. Sementara korban, diketahui telah memiliki suami, inisial AJR. Aksi bejat TWL itu, diketahui telah berlangsung sejak 2007 hingga 2020 lalu.


Kapolres Sumba Barat, AKBP FX Irwan Arianto, dalam keterangan yang diterima Wartawan pada Minggu (7/2/2021), menjelaskan, kasus pencabulan yang dilakukan pelaku TWL, yang adalah Ayah kandung korban MTM itu, terkuak ketika korban mendatangi SPKT Polres Sumba Barat, pada 28 November 2020 lalu, untuk melaporkan dan membeberkan kronologis kejadian yang telah berlangsung selama 13 tahun itu.


“Setelah mendapat laporan tersebut, petugas SPKT bersama Penyidik Unit PPA, langsung mengantar korban tersebut ke Rumah Sakit Lendemoripa untuk dilakukan pemeriksaan Visum et Repertum, di mana dari hasil pemeriksaan tersebut diketahui bahwa korban mengalami luka lecet/gores di bagian dada,” beber Irwan Arianto.


Irwan, membeberkan kronologis kejadian tersebut, di mana, pada 28 November 2020 sekitar pukul 09.00 WITA, MTM hendak dicabuli lagi oleh TWL, di rumah pelaku di Jalan Pengerasan Weepawu, Desa Welibo, Kecamatan Lamboya.


Pada waktu itu, kata Irwan, pelaku memaksa korban berhubungan badan, dengan menarik baju korban hingga robek dan dada korban tercakar oleh pelaku. Namun, pemerkosaan tersebut tidak terjadi, lantaran korban melakukan perlawanan dan berhasil melarikan diri ke rumah tetangga.


"Korban berhasil melarikan diri ke rumah tetangga, Yunita Dada Gole, dan langsung meminjam handphone tetangganya itu untuk menelepon suaminya yang sedang berada di Kampung Paronawo. Korban hendak memberitahukan kepada suaminya bahwa dirinya hendak diperkosa oleh Ayah kandungnya sendiri," tutur Irwan.


Tidak lama berselang, pelaku kembali memanggil korban yang berada di rumah tetangganya tersebut. Korban langsung kembali ke rumah Ayahnya itu, karena takut dengan pelaku. Namun, korban tidak masuk ke dalam rumah, karena takut kejadian itu terulang lagi. Korban hanya duduk di depan rumah, menunggu jemputan dari suaminya.


Mendapat informasi dari istrinya, AJR, langsung berangkat ke rumah Kepala Desa Welibo, Lukas L. Bole, untuk melaporkan peristiwa tersebut. AJR, meminta bantuan, Lukas, agar menjemput korban di rumah pelaku. AJR, tidak berani menjemput istrinya sendiri di rumah mertuanya itu, karena khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan jika Ia yang menjemput istrinya. AJR, sebelumnya telah diusir oleh pelaku dari rumah, dan dirinya juga tahu persis sifat Ayah mertuanya itu.


"Setelah mendapat laporan dari suami korban, Kepala Desa Welibo langsung memanggil dan menyuruh suami korban untuk pergi ke rumah pelaku dan menjemput istrinya itu. Saat itu, Kepala Desa berpesan kepada suami korban untuk berpura-pura, alasan dirinya menjemput korban atas perintah Kepala Desa, untuk menandatangani uang bantuan covid-19 yang tidak boleh diwakili, dengan maksud agar pelaku tidak menghalangi proses penjemputan korban tersebut," jelas Kapolres Irwan.


Berdasarkan arahan tersebut, suami korban langsung berangkat ke rumah pelaku untuk menjemput korban. Saat tiba di rumah Ayah mertuanya itu, AJR, melihat korban sudah menunggu di depan rumah. AJR, langsung menyampaikan kepada pelaku bahwa Kepala Desa menyuruh dirinya menjemput korban agar bisa menandatangani dan mengambil uang bantuan covid-19, karena tidak bisa diwakili. 


"Saat itu, pelaku mengizinkan korban untuk pergi bersama suaminya itu. AJR, langsung membonceng istrinya dan membawanya ke rumah Kepala Desa Welibo," ungkap Irwan.


Setiba di rumah Kepala Desa Welibo, korban langsung menceritakan kronologis kejadian yang baru saja dialaminya itu. Kepala Desa Welibo kemudian menyuruh korban dan suaminya segera melaporkan kejadian tersebut ke pihak Kepolisian.


Berdasarkan laporan itulah, diperoleh fakta bahwa pelaku telah berulang kali menyetubuhi korban yang merupakan anak kandungnya itu. Korban pertama kali diperkosa oleh Ayahnya itu pada tahun 2007, saat korban berusia 20 tahun.


"Akibat hubungan terlarang itu, korban MTM, telah melahirkan tiga orang anak, yang ketiganya dirawat oleh korban dan istri pelaku, yang merupakan Ibu kandung korban. Ketiganya juga tinggal di rumah pelaku. Anak pertama lahir pada Januari 2008, anak kedua lahir pada Maret 2010, dan anak ketiga lahir pada Mei 2012, di mana dua orang anak yang berjenis kelamin laki-laki mengalami cacat mental (difabel)," jelas Irwan.


Sebelumnya, pelaku pernah dilaporkan ke pihak berwajib, namun pelaku sempat melarikan diri selama satu bulan. Hingga pada 28 Desember 2020, pelaku berhasil ditangkap. Dalam pemeriksaan, pelaku sempat menyangkal bahwa dirinya tidak melakukan pencabulan terhadap korban. Namun, pelaku tidak memungkiri bahwa sebelumnya Ia pernah menyetubuhi korban, sejak tahun 2007, hingga korban melahirkan tiga orang anak.


"Selain dilakukan di rumah pelaku, aksi pemerkosaan itu juga dilakukan di kebun milik pelaku yang beralamat di Kampung Wenita, Desa Welibo, Kecamatan Lamboya," ungkap Irwan.


Irwan menyampaikan, saat korban melahirkan tiga orang anak tersebut, Ibu korban mengetahui bahwa yang menghamili anaknya itu adalah suaminya sendiri, yang merupakan Ayah kandung korban. Namun, Ibu korban tidak bisa melakukan apa-apa, karena takut dengan pelaku.


Untuk diketahui, saat ini, pelaku telah menjalani masa penahanan di Ruang Tahanan (Rutan) Polres Sumba Barat, sejak 29 Desember 2020.


“Atas tindakan asusila tersebut, tersangka dijerat dengan Pasal 289 KUHP, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun,” tukas Irwan.

Komentar

Tampilkan

  • Ayah Bejat di NTT, 13 Tahun Tiduri Anak Kandung
  • 0

Terkini di FEC Media

Topik Populer

Iklan Dalam Feed